RosyidMI

Senin, 31 Agustus 2026

Menikah di Usia 32 Tahun
Agustus 31, 20260 Comments


Kalau sampeyan buka buku sejarah, angka 32 itu angka yang keramat sekaligus bikin merinding.

Bagi sebagian orang, angka 32 itu punya trauma sejarah. Tanyakan saja pada bapak atau simbah sampeyan. Angka 32 adalah durasi Pak Harto berkuasa dengan Orde Baru-nya. Sebuah era di mana segalanya tampak stabil, teratur, penuh swasembada beras, tapi di balik itu ada kewaspadaan tingkat tinggi. Kalau salah ngomong, atau tidak sesuai penguasa, bisa-bisa besoknya hilang atau tinggal nama di pos ronda. 

Nah, anehnya, saya itu kok ya malah mengimitasi Pak Harto. Bedanya, kalau Orde Baru-nya Pak Harto adalah rezim pemerintahan, Orde Baru versi saya adalah rezim kesendirian.

Bayangkan, 32 tahun! Sebuah durasi yang cukup untuk membangun jalan tol, menerbitkan puluhan babak GBHN, dan merajai tabel kelayakan menantu ideal di mata ibu-ibu pengajian.

Selama 32 tahun itu, saya hidup di bawah kekuasaan status "sendiri" yang represif. 

Sebuah rekor yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat untuk dibanggakan, tapi sukses bikin ibu saya rajin menanyakan status saya ke teman-teman yang datang ke rumah dan tetangga makin gencar prihatin. 

Tiap kali datang ke resepsi pernikahan kawan, saya harus siap mental menerima pertanyaan intimidatif yang kejamnya melebihi interogasi intel: "Kapan nyusul?"

Saya cuma bisa tersenyum simpul sambil mengambil rendang porsi ganda. Itu bentuk perlawanan pasif saya terhadap keadaan.

Tapi yang namanya rezim, sekuat apa pun ia bertahan, akhirnya runtuh juga.

Kalau Orde Baru tumbang di tahun 1998 karena gelombang reformasi, maka rezim "sendiri" 32 tahun saya resmi lengser bukan karena didemo mahasiswa, melainkan karena keajaiban takdir dan keberanian seorang perempuan yang mau-maunya menandatangani "perjanjian damai" di hadapan penghulu tadi pagi.

Perempuan itu bernama Merlinnia, perempuan cerdas dan cantik, tapi bisa saya kibuli. 

Menikah di umur 32 tahun itu rasanya ajaib. Ada rasa syukur yang ugal-ugalan.

Jujur saja, menikah di usia ini membuat saya paham kenapa Orde Baru bisa bertahan 32 tahun: karena bertahan dalam kelamaan itu butuh kesabaran yang hakiki, tak banyak orang yang mampu melakukannya. 

Bedanya, kalau dulu rakyat lega ketika Orde Baru berakhir, saya justru lega luar biasa ketika status lajang saya yang berakhir di umur 32, persis lamanya orde baru berkuasa.

Sekarang, setelah akad terucap, hidup saya memasuki masa Reformasi. Tidak ada lagi otoriter keputusasaan. Semua hal sekarang harus dikompromikan—mulai dari menentukan arah masa depan keluarga, sampai urusan krusial seperti menentukan merk pasta gigi dan sisa ruang di kasur yang makin menyempit.

Ternyata, menunggu sampai umur 32 tahun itu tidak sepenuhnya rugi. Gusti Allah itu kalau bikin skenario suka lucu. Beliau membiarkan saya berpetualang seumuran berdirinya Orde Baru, cuma buat memastikan bahwa ketika saya akhirnya menikah, saya sudah cukup dewasa untuk tidak bertindak otoriter kepada istri sendiri. Saya sudah terlatih prihatin, terlatih dikritik, dan siap hidup di bawah tekanan—yang mana itu adalah modal utama seorang suami.

Terima kasih yang sebanyak-banyaknya untuk teman-teman yang mendoakan, datang, dan memberikan bingkisan. Saya tidak dapat membalasnya satu persatu, namun saya pastikan selalu ada doa untuk kalian di setiap doa saya. 

Mohon maaf apabila dalam menjamu di acara pernikahan saya banyak kekurangan 🙏🏻. 

Avignam Jagad Samagram. Semoga pernikahan kami menjadi berkah bagi seluruh makhluk. 

*Untuk teman-teman yang bertanya kenapa saya memilih menikah di umur 32, tentu jawabanya supaya tulisan di atas bisa terbit. Ga ada alasan khusu lainnya 😂

Reading Time:

Senin, 02 Januari 2023

Kembang api tahun baru yang padam sebelum menyala terang
Januari 02, 20230 Comments
"Kita semua pernah menjadi kembang api di malam tahun baru seseorang. Terbang, menyala terang, meredup, kemudian padam."

Ada banyak pelbagai macam kembang api dari bentuk hingga warna yang menyala di setiap pesta pergantian tahun, seolah sebagai tanda bahwa kita menjumpai berbagai macam rasa. Baik yang akan datang, atau yang telah dilalui.

Rutinitas 2022 menjadikan waktu terasa lebih cepat. saya tak ingat banyak hal menyenangkan untuk diceritakan.
Beberapa kali mencoba mencari moment melalui foto di galeri, hasilnya nihil.
Bagi saya 2022 adalah tahun yang datar.

Malahan ada beberapa kecewa yang hingga sekarang masih jelas diingatan.

"The biggest lesson that I learned in 2022 is not to force anything. Anything force is just not worth fighting for. Anything flows, flows. It is what it is".


Reading Time:

Jumat, 21 Oktober 2022

Welinge Simbah "Disuntike wae"
Oktober 21, 20220 Comments
Setiap sakit, saran umum yang simbah berikan adalah 'disuntike wae'.

Mbah² yang lebih dulu berpengalaman mencari laku sembuh saat sakit beranggapan bahwa obat yang paling manjur adalah dengan metode suntik.

Sa kok sepakat ya, bahwa iktiar ke dokter untuk berobat ya paling "marem" itu kalo sudah di suntik. 

Kemarin, sa berobat ke RSU umum bertemu dengan dokter umum berobat masalah "wong crobo dan ora resikan", alhasil dari sana, rasanya kurang marem karena hanya diberi vitamin dan bedak. Iya bedak, itupun saya lihat di apotik ada. Dan setelah saya bandingkan dengan obat gatal di rumah, komposisinya mirip. 

Ini bedak sama kandungannya, udah dipake, dan ga sembuh, semalam sa pake malah kayak tuyul mau beraksi, sekujur badan putih. Tingal digundul dan suruh keliling kampung sempakan tok. Mirip.

Alhasil, pagi tadi sa berobat lagi. Kali ini ke klinik sebelah rumah, dan Mas Dokter ganteng di sana menawarkan obat suntik atau obat telan, dengan mantab teringat kata simbah, 
"Suntik aja mas, yang banyak, asal cepet sembuh. Sig-sigan garuk selangkangan milik sendiri itu ga mengenakan". Mas dok senyum, kayaknya mo ikutan ketawa lepas malu, soalnya ada mbak perawat di sampingnya.

15 menit ngobrol sama Mas dok ganteng, 5 menit diperiksa, 10 menit konsultasi.
Itu kebiasaan saya ketika berobat ke dokter, bertanya apapun yang ada di kepala soal penyakit yang diderita. Mulai dari kok bisa, gimana, kapan, bagaimana keluar semua.

Dari ngobrol sama Mas dok ganteng tadi, sa berjanji bakal lebih resikan lagi, bukan cuma pake tangan dan sabun, eh.. maksudnya cuci tangan pakai sabun, tapi juga rajin mandi, ga da lagi itu slogan "rasah adus, cah resig og".

Cukup yang bersih tanpa mandi pikiran dan hati saja, badan jangan.

Setelah di suntik dan diberi obat jalan, kok ndilalah ketakutan akan penyakitnya hilang. Berganti dengan harapan besar dan keyakinan sebentar lagi bakal sembuh.

Selepas keluar pintu Klinik, Sudah bayangin bakteri-bakteri jahat sedang "kapiran" melawan obat yang disuntikan. Pada tewas, bergeletakan.

Rasanya di badan sedang ada Pasukan sekelas Navy seal nya US atau Spentsnaz nya rusia melawan yang bathil. 😁

Jumat, 21 Okt 22.
Reading Time:

Senin, 09 Mei 2022

Simulasi Kehidupan dari Game Harvest moon
Mei 09, 20220 Comments

Waktu SD-SMP, saya hampir tiap hari maen game ini. Bagi saya saat itu, game ini benar2 mewakili kehidupan orang dewasa. Bekerja, Berumah tangga, berhobi dan bersosialisai dengan masyarakat. Menyenangkan.

Hal yang paling menarik adalah ketika di game ini, kita berusaha "PDKT" dengan karakter AI supaya mereka mau diajak menikah. Dan, dalam game itu sangat mudah untuk membuat orang jatuh cinta, hanya bermodalkan Tlaten nengajak ngobrol, perhatian dan rutin memberinya hadiah.

Di game ini, karakter yang saya mainkan menikah dengan Elli, seorang perawat/bidan yang ada di klinik desa Mineral town. Mungkin dari sinilah, saya kemudian tertarik dengan perawat & Bidan di dunia nyata. Sampe2 sa pernah mendekati cewek dengan cara seperti di game tsb; ngajak ngobrol, slalu ada, ngasih perhatian, pokoknya ala anak polos baik2 gt. Tapi ya gagal, bajingan ttp ditolak.

Wkwkek tidak semudah itu ferguso.. 

Hampir semua character AI cewek di game ini jatuh cinta dengan Character yang sa maenkan. Cuma di game ini juga sa berani mendekati lebih dari satu cewek. Di dunia nyata, ya ampun, setia sehidup semodar aja masih di sakitin. Aku tu sabar bet kan.
Pa lagi sekarang, boro-boro jadi playboy,nsatu aja kagak ada.  (Wes.. wes.. ganti topik, soyo nglantur koe set)

Dunia nyata saat dewasa tidak semudah kita bermain game simulasi kehidupan.
Bekerja, bersosialisai, berumahtangga tak semudah memainkan joystik di depan PC. Ada banyak masalah yang tak mudah diselesaikan.

Khusus hal berumahtangga, sa kesampingkan dulu, karena belum dapat karakter "Elli" di dunia nyata.

Tumbuh menjadi tua itu tidak menyenangkan yah & menjadi anak-anak adalah hal yang paling membahagiakan.

Semoga semua makhluk segera berbahagia.



Reading Time:

Rabu, 08 Desember 2021

Start Over Again
Desember 08, 20210 Comments

 

Ada banyak malam pergantian tahun menyenangkan yang saya lewati, dari menghabiskan malam di pinggiran pantai selatan, sekedar menikmati kembang api di alun-alun kota, hingga sekedar berkumpul bebakaran bersama teman. Semua mempunya kesannya masing-masing. Namun, salah satu yang berkesan adalah pergantian tahun 2019/2020.
Saat semua rencana tersusun rapi dan berjalan dengan baik. Sebagai manusia, saya merasa sudah bahagia segalanya. Tak ada firasat sebelumnya bahwa hidup harus kembali 'reset' ke tahun-tahun sebelumnya. Tak terpikir juga kalau berita pandemi di televisi, yang kita sudah antisipasi secara mandiri bakal semakin menjadi. Semakin menggila hingga dua tahun lamanya. Mengambil kebahagian, hingga harus berdamai dengan kehilangan. Manusia memang bisa berencana, Namun Semesta juga mempunyai rutinitasnya. Dedicated to Awesome 2019.

Tahun lalu merupakan tahun yang berat untuk dilalui. Kita diuji untuk lebih bersabar dan bertahan dengan keterbatasan keadaan. Banyak mengalami kehilangan; orang tercinta, pekerjaan, juga harus menunda pelbagai keinginan yg sudah dirancang matang-matang.
Ditengah kesulitan & keterbatasan, masih banyak orang & hal baik yg menguatkan melalui doa dan ikhtiarnya masing-masing. Karenanya kita mampu bertahan. Terimakasih untuk hal-hal baik di tahun 2020. Waktu akan terus berjalan, tanpa menunggu, tanpa belas kasihan. Tidak ada yang beda, entah itu kemarin, sekarang atau nanti. yang jadi pembeda adalah bagaimana kita mensyukuri waktu terbatas yang Tuhan berikan. Memanfaatkan setiap detik dengan sebaik-baiknya, sehingga tak ada penyesalan di kemudian hari.
Bagaimanapun juga, sakit, patah, kecewa, kehilangan adalah bagian dari hidup yang tak bisa dipisahkan. Ada kabar baik di penghujung tahun, satu persatu lilin mulai menyala. Berhasil atau tidak, kita sudah berikhtiar dengan menerapkan ilmu pengetahuan untuk memperbaiki nasib manusia. Avignam jagat samagram, Semoga seluruh makhluk segera berbahagia.
Reading Time: