Kalau sampeyan buka buku sejarah, angka 32 itu angka yang keramat sekaligus bikin merinding.
Bagi sebagian orang, angka 32 itu punya trauma sejarah. Tanyakan saja pada bapak atau simbah sampeyan. Angka 32 adalah durasi Pak Harto berkuasa dengan Orde Baru-nya. Sebuah era di mana segalanya tampak stabil, teratur, penuh swasembada beras, tapi di balik itu ada kewaspadaan tingkat tinggi. Kalau salah ngomong, atau tidak sesuai penguasa, bisa-bisa besoknya hilang atau tinggal nama di pos ronda.
Nah, anehnya, saya itu kok ya malah mengimitasi Pak Harto. Bedanya, kalau Orde Baru-nya Pak Harto adalah rezim pemerintahan, Orde Baru versi saya adalah rezim kesendirian.
Bayangkan, 32 tahun! Sebuah durasi yang cukup untuk membangun jalan tol, menerbitkan puluhan babak GBHN, dan merajai tabel kelayakan menantu ideal di mata ibu-ibu pengajian.
Selama 32 tahun itu, saya hidup di bawah kekuasaan status "sendiri" yang represif.
Sebuah rekor yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat untuk dibanggakan, tapi sukses bikin ibu saya rajin menanyakan status saya ke teman-teman yang datang ke rumah dan tetangga makin gencar prihatin.
Tiap kali datang ke resepsi pernikahan kawan, saya harus siap mental menerima pertanyaan intimidatif yang kejamnya melebihi interogasi intel: "Kapan nyusul?"
Saya cuma bisa tersenyum simpul sambil mengambil rendang porsi ganda. Itu bentuk perlawanan pasif saya terhadap keadaan.
Tapi yang namanya rezim, sekuat apa pun ia bertahan, akhirnya runtuh juga.
Kalau Orde Baru tumbang di tahun 1998 karena gelombang reformasi, maka rezim "sendiri" 32 tahun saya resmi lengser bukan karena didemo mahasiswa, melainkan karena keajaiban takdir dan keberanian seorang perempuan yang mau-maunya menandatangani "perjanjian damai" di hadapan penghulu tadi pagi.
Perempuan itu bernama Merlinnia, perempuan cerdas dan cantik, tapi bisa saya kibuli.
Menikah di umur 32 tahun itu rasanya ajaib. Ada rasa syukur yang ugal-ugalan.
Jujur saja, menikah di usia ini membuat saya paham kenapa Orde Baru bisa bertahan 32 tahun: karena bertahan dalam kelamaan itu butuh kesabaran yang hakiki, tak banyak orang yang mampu melakukannya.
Bedanya, kalau dulu rakyat lega ketika Orde Baru berakhir, saya justru lega luar biasa ketika status lajang saya yang berakhir di umur 32, persis lamanya orde baru berkuasa.
Sekarang, setelah akad terucap, hidup saya memasuki masa Reformasi. Tidak ada lagi otoriter keputusasaan. Semua hal sekarang harus dikompromikan—mulai dari menentukan arah masa depan keluarga, sampai urusan krusial seperti menentukan merk pasta gigi dan sisa ruang di kasur yang makin menyempit.
Ternyata, menunggu sampai umur 32 tahun itu tidak sepenuhnya rugi. Gusti Allah itu kalau bikin skenario suka lucu. Beliau membiarkan saya berpetualang seumuran berdirinya Orde Baru, cuma buat memastikan bahwa ketika saya akhirnya menikah, saya sudah cukup dewasa untuk tidak bertindak otoriter kepada istri sendiri. Saya sudah terlatih prihatin, terlatih dikritik, dan siap hidup di bawah tekanan—yang mana itu adalah modal utama seorang suami.
Terima kasih yang sebanyak-banyaknya untuk teman-teman yang mendoakan, datang, dan memberikan bingkisan. Saya tidak dapat membalasnya satu persatu, namun saya pastikan selalu ada doa untuk kalian di setiap doa saya.
Mohon maaf apabila dalam menjamu di acara pernikahan saya banyak kekurangan 🙏🏻.
Avignam Jagad Samagram. Semoga pernikahan kami menjadi berkah bagi seluruh makhluk.
*Untuk teman-teman yang bertanya kenapa saya memilih menikah di umur 32, tentu jawabanya supaya tulisan di atas bisa terbit. Ga ada alasan khusu lainnya 😂

